Kementerian Pertanian Tingkatkan IP di Lahan Rawa agar Produksi Beras Melimpah

Kepala BPPSDMP Kementan, Dedi Nursyamsi.
Sumber :
  • VIVA Malang / Uki Rama

Malang, VIVAKementerian Pertanian (Kementan) sedang menggenjot produksi beras demi memenuhi kebutuhan pokok Indonesia. Sebab, kebutuhan beras dalam negeri per bulan tidak kurang dari 2,6 juta ton atau setara 1 juta hektare luas panen dengan produktivitas 5,2 ton per hektare. Sementara Indonesia hanya mampu menghasilkan beras 30,2 juta ton per tahun.

Jelang Panen Raya Tahun 2025, Disperta Jombang Pastikan Harga Gabah Stabil

"Artinya kita masih defisit 1 juta beras. Belum lagi cadangan beras pemerintah (CBP) 2,5 juta ton, berarti dijumlah kurang lebih 3,5 juta ton beras setiap tahun. Itu setara dengan 7 juta ton gabah kering giling (GKG)," kata Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian (BPPSDMP) Kementan Dedi Nursyamsi

Berdasarkan data yang ada, pada Maret 2024, petani baru bisa menanam seluas 800.000 hektare atau terjadi kekurangan tanam seluas 300.000 hektare, yang akibatnya akan defisit beras. Jurus yang dilakukan Kementan saat ini dengan perluasan tanam dan meningkatkan indeks pertanaman

Jelang Nataru Harga Beras di Jombang Naik, Pedagang Mengeluh Sepi Pembeli

"Oleh karena itu, kita harus melakukan perluasan tanam dan meningkatkan indeks pertanaman (IP) kita di lahan rawa dan lahan tadah hujan agar produksi beras kembali melimpah," ujar Dedi.

Kementan saat ini tengah fokus menggenjot produksi dua komoditas pokok, yaitu padi dan jagung nasional melalui optimalisasi lahan rawa, pompanisasi, dan tumpang sisip padi gogo di lahan perkebunan.

Wali Kota Pasuruan Salurkan Bantuan Cadangan Pangan Jelang Hari Raya Idul Fitri

Optimalisasi rawa sedang dilakukan di 11 provinsi tersebar di pulau Kalimantan, Sumatera, dan Sulawesi. Targetnya meningkatkan indeks pertanaman 100 menjadi 200 untuk daerah yang sudah dilakukan survei investigasi dan desain (SID).

"Lahan rawa kita umumnya cuman tanam satu kali dalam satu tahun. Lahan Rawa kalau kita tingkatkan IP dari satu kali menjadi dua dalam satu tahun berarti kita harus optimasi lahannya. Kita harus perbaiki salurannya dan sebagainya," tutur Dedi. 

Kementan juga menggalakkan program bantuan pompanisasi, khususnya di lahan persawahan tadah hujan ber-IP satu yang dekat dengan sumber air. Program ini akan dilakukan 500 hektare di Pulau Jawa dan 500 hektae di luar Pulau Jawa.

"Kita punya lahan tadah hujan 3 hingga 4 juta hektare, yang baru tanam satu kali dalam satu tahun karena apa irigasinya hanya mengandalkan hujan. Kalau ini kita tingkatkan IP-nya jadi dua kali, produksi kita juga akan meningkat," tutur Dedi. 

Kementan juga menggalakkan tumpang sisip padi gogo di lahan perkebunan sawit dan kelapa yang sedang mengikuti program Peremajaan Sawit Rakyat (PSR).

"Kita ada lahan sawit dan kakao sekitar 500.000 hektare untuk program tumpang sisip padi gogo. Sehingga yang tadinya tidak bisa tanam menjadi tanam," kata Dedi.

Untuk itu, Kementan melatih jutaan petani dan penyuluh untuk mengantisipasi darurat pangan nasional. Mereka menyelenggarakan PSPP Volume 10 Tahun 2024 bagi Petani, Penyuluh Pertanian, dan Bintara Pembina Desa (Babinsa) dengan tema 'Gerakan Antisipasi Darurat Pangan Nasional'. 

Kementan ingin meningkatkan pemahaman peserta dalam peningkatan produksi padi melalui optimalisasi lahan rawa dan pompanisasi di lahan sawah tadah hujan serta pemanfaatan lahan perkebunan untuk padi.

PSPP ini dilaksanakan selama tiga hari, sejak 5 hingga 7 Juni 2024 di Balai Besar Pelatihan Pertanian (BBPP) Ketindan, Malang untuk luring. Sementara pelatihan daring dilakukan serentak di UPT Pelatihan Pertanian, Kantor Dinas Pertanian Provinsi dan Kabupaten/kota, Balai Penyuluhan Pertanian (BPP), dan Kantor Koramil di seluruh Indonesia.

Peserta pelatihan yang mengikuti sebanyak 1.902.354 dari target sebanyak 1.800.000 orang yang terdiri dari Petani sejumlah 1.823.948 orang. Penyuluh PNS sejumlah 12.008 orang, Penyuluh PPPK sejumlah 7.690 orang. Penyuluh THL Pusat sejumlah 474 orang, Penyuluh THL Daerah sejumlah 3.184 orang, BABINSA sejumlah 48.347 orang dan Insan Pertanian lainnya sejumlah 6.703 orang.