Tak Terlena Growth, Startup Harus Perhatikan Ini

Tak Terlena Growth, Startup Harus Perhatikan Ini
Sumber :

Malang – Tsunami pemutusan hubungan kerja (PHK) yang terjadi pada perusahaan rintisan membuat para founder melakukan introspeksi.

img_title SheConnect Champion Jadi Cara Indosat Dukung UMKM Memanfaatkan Bisnis Lewat Teknologi

Salah satu yang hal yang menjadi koreksi adalah bagaimana startup tak terlena dengan pertumbuhan (growth) sebagai satu-satunya indikator kesuksesan.

Berdasarkan informasi yang berhasil dihimpun, indikator pertumbuhan terdiri dari beberapa aspek. Mulai dari jumlah pengguna, karyawan, pendapatan, gross merchandise value (GMV) dan lainnya.

img_title 24Slides, Nema Production dan Meja Kita Menangkan Turnamen Adu Raket

Metriks pertumbuhan tersebut memang diperlukan, Namun, startup juga harus menyusun path of profitability, memikirkan burn rate, cost, return of investement dan sebagainya. 

Ketua Umum Asosiasi Modal Ventura dan Startup Indonesia (Amvesindo), Eddi Danusaputro mengatakan, perusahaan rintisan kerap mendengar growth all cost alias bakar uang untuk meraih pertumbuhan, mengakuisisi user dan rekrut karyawan sebanyak mungkin dan promosi besar.

img_title Asandra Salsabila Bikin Career Fair 2023 Demi Masa Depan Anak-anak Muda

Namun, menurut Eddi, hal tersebut kurang relevan. Sebab, hal tersebut kemungkinan masih berlaku bagi startup early stage. 

“Memang di fase ini, mereka perlu menunjukkan growth yang kencang. Misalnya, saat mereka di tahap pendanaan seri A. Di atas itu, mereka sudah harus memikirkan value, customers, dan sebagainya," kata dia.

"Artinya, tidak melulu cost. Paling penting, sudah memiliki path of profitability dan syukur-syukur sudah menuai profit. Oleh karena itu, startup tak bisa terus bakar duit apalagi itu duitnya investor,” imbuh pria yang juga CEO Mandiri Capital Indonesia (MCI).

Untuk itu, saat awal membuat startup, founder harus memperhatikan banyak hal. Tak perlu bakar uang dengan merekrut karyawan sebanyak-banyaknya dengan gaji besar, promosi besar hingga merilis produk baru.

Sehingga, tidak perlu melakukan penghentian mendadak ketika terjadi masalah dan terpaksa melakukan efisiensi. Artinya, Growth dan Cash Flow harus seimbang. 

Eddi juga menekankan, startup tak perlu kehilangan karakternya saat mengadopsi tata kelola bisnis yang baik (good governance) maupun prudent seperti yang dilakukan oleh perusahaan-perusahaan konvensional yang berkelanjutan. 

Idealnya memang kombinasi. Tidak sepenuhnya kultur startup, tetapi juga tidak sepenuhnya kultur korporasi konvensional.

Sementara itu, Editor-in-chief DailySocial.id, mengatakan, perusahaan rintisan di Indonesia saat ini harus memikirkan keberlanjutan bisnis di masa depan. 

Halaman Selanjutnya
img_title