Seru dan Unik! Ada Lomba Balap Sepeda Kayu Tanpa Rem

Lomba balap sepeda kayu unik di Pasuruan
Sumber :
  • VIVA Malang (Hari Mujianto/Pasuruan)

Pasuruan, VIVA – Semangat kemerdekaan ke-80 Republik Indonesia disambut meriah dengan cara yang unik dan seru di Desa Lumbang, Kecamatan Lumbang, Kabupaten Pasuruan lewat lomba sepeda kayu tanpa rem.

img_title Ajang Talenta Siswa Jatim 2025 Resmi Dibuka, Siap Ukir Prestasi Nasional

Pada Minggu, 17 Agustus 2025, warga setempat menggelar lomba 'Gelindingan', sebuah balapan sepeda roda tiga yang seluruhnya terbuat dari kayu dan bambu. Acara ini berhasil menarik antusiasme tinggi dari berbagai kalangan, mulai dari pemuda hingga orang tua.

Diketahui, lomba gelindingan bukanlah tradisi baru bagi warga Lumbang. Menurut Hari Priyanto (54), mantan peserta balap senior, balapan ini sudah rutin diadakan sejak tahun 1995. 

img_title Atlet Downhill Kota Batu Sumbang Medali Perak di PON

"Saya salah satu peserta awal dan pernah juara di tahun 1997," kenangnya sambil tersenyum.

Meski terlihat sederhana, lomba ini menguji adrenalin para pesertanya. Sepeda kayu yang dijuluki gelindingan ini mampu melaju kencang hingga 60-70 km per jam saat melintasi jalanan menurun. Tantangan terbesar adalah sepeda ini tidak dilengkapi dengan rem.

img_title PJ Gubernur Resmikan Jembatan dan Tanggul Desa di Pasuruan Pasca Diterjang Banjir Bandang

"Pembalap harus mengerem dengan menggunakan kedua kaki yang berpijak di jalan aspal," jelas Hari.

Fajar (18), salah satu peserta muda, mengakui bahwa mengendarai gelindingan membutuhkan mental yang kuat. Selain tidak adanya rem, kontrol sepeda juga sulit karena stang roda depan dan bodi yang terhubung ke roda belakang tidak tersambung secara permanen.

Lomba balap sepeda kayu unik di Pasuruan

Photo :
  • VIVA Malang (Hari Mujianto/Pasuruan)

Hal ini membuat sepeda rentan tergelincir, terutama saat melintasi tikungan tajam. "Kalau di tikungan kita tidak fokus pada roda depan, roda belakang bisa tergelincir dan jatuh," ujar Fajar.

Untuk menjaga keselamatan, panitia mewajibkan seluruh 40 peserta mengenakan helm dan sarung tangan. Para pembalap bersaing ketat untuk memperebutkan total hadiah sebesar Rp5 juta. 

Lebih dari sekadar ajang kompetisi, lomba unik ini menjadi tradisi yang kuat untuk mempererat tali persaudaraan dan kebersamaan warga Desa Lumbang dalam merayakan Hari Kemerdekaan.