Keluarga Korban Ungkap Tabiat Asli Pelaku Pembunuhan Balita 3 Tahun di Jombang

Kakek dan nenek korban saat tunjukkan foto mendiang K.
Sumber :
  • VIVA Malang (Elok Apriyanto/Jombang)

Jombang, VIVA – Rohmat (68 tahun) kakek dari K (3 tahun) balita yang tewas ditangan pacar ibunya memberikan kesaksian bahwa perilaku JJ (28 tahun) sangat tidak sopan selama menjalin hubungan dengan anaknya yang sedang pisah ranjang itu.

Hari Ke 2 Lebaran di Jombang, Antrian Kendaraan Mengular hingga 12 Kilometer

Ditemui di kediamannya, Rohmat mengatakan bahwa JJ sering bertamu ke rumahnya, untuk menemui TI, dan K. Dan selama ke rumahnya itu, Rohmat jarang berbicara dengan JJ, karena ia melihat bahwa JJ tidak memiliki sopan santun.

"Saya itu gak pernah bicara, bertanya juga enggak, tapi kalau hati saya, saya menilai (JJ) gak ada kesopanan, sama sekali," kata Rohmat, Jum'at 13 Desember 2024.

Hari H Lebaran Hingga Kini, Segini Jumlah Kendaraan yang Melintas Tol Jombang

Ia pun mengaku bahwa selama menjalin hubungan dengan TI, anaknya itu, JJ kerap datang ke rumah bersama dengan temannya. Bahkan, JJ kerap pesta minuman keras di rumahnya yang ada di Mojoagung, setiap hari.

"Ya sering ke sini, sama temannya. Hura-hura di sini, minum (pesta miras) di sini juga. Setiap hari ke sini, sampai malam, jam 23.00 WIB, baru pulang," ujarnya.

Perpadi Jombang Dukung BULOG Serap Gabah Petani Sesuai HPP

Lantaran tak memiliki sopan santun, Rohmat mengaku enggan berkomunikasi dengan TI maupun JJ, selama keduanya berpacaran.

"Saya gak pernah tanyak, gak pernah ngomong sama anak saya, sama pacarnya itu juga. Dan kalau keluar rumah (TI dan JJ) nunggu saya sudah tidur. Keluarnya lewat jendela. Ya keluar gak pernah bilang, pulang ya gak pernah bilang," tuturnya.

Ia mengaku bila dihitung, JJ paling sering bertamu ke rumahnya, bersama temannya untuk pesta miras. "Yang paling sering itu sama teman. Kalau sendirian jarang ke sini. Kadang berduaan sama teman, kadang ngajak 3 sampai 4 orang teman," kata Rohmat.

Ia pun menyebut bahwa TI sempat mengatakan bahwa JJ sayang dengan K, namun bila dilihat secara langsung, dan kenyataan, hal itu tidak benar.

"Ya kalau mamanya bilang katanya sayang, tapi kalau saya yang ngelihat, gak ada sama sekali, gak ada sama sekali rasa sayangnya sama K," ujarnya.

Rohmat mengaku selama pisah ranjang dengan suaminya, TI dan K tinggal bersama dengan dirinya. Sedangkan kakak K, berada di tempat lainnya. Termasuk suami TI.

"Ya ibunya sama K yang tinggal di sini. Kakaknya (korban) gak di rumah sini, di rumah utara di Kauman, kalau ayahnya di Pakis Trowulan Mojokerto. Kan ini pisah ranjang beluk resmi bercerai," tuturnya.

Sementara itu, M. Jun Prayogi (38 tahun) kakak TI mengatakan bahwa almarhumah K, awalnya memang suka dengan JJ, namun setelah mendapat kekerasan dari JJ, gadis kecil usia 3,5 tahun itu takut dengan JJ.

"Pelaku memang sering ke sini, keakraban sama anak (almarhumah K), memang ada. Cuman pas habis kejadian yang pertama sekitar dua bulan kemarin, anaknya ini merasa takut. Si korban ini takut, kenapa waktu awal-awal baik kok sekarang takut," kata Jun.

Hal inilah yang membuat pihak keluarga, menjadi curiga dengan adanya luka pada tubuh korban. "Saya tau anak ini memang penakut, tapi gak takut seperti ini lah. Kayak takut melihat hantu," ujarnya.

Ia pun mengaku bahwa korban sempat mengeluh adanya luka pada bagian tubuh, yang saat itu diduga dilakukan JJ.

"Ada keluhan, makanya itu dia (K) takut sama JJ, karena awal pertama dia ke sini, baik dan dia suka, diajak jalan-jalan suka. Dan setelah kejadian dua bulan lalu, itu anaknya sakit di perut dan tangan, saat ditanya gak berani jawab," tuturnya.

Ia pun mengaku bahwa sebelum kejadian penganiayaan yang mengakibatkan korban ini meninggal, pada bagian mata korban sempat mengalami luka lebam.

"Nah terakhir itu Minggu kemarin, pas saya lihat kok matanya ada luka kayak lebam, terus saya tanyak sama ibu saya, anak ini dari mana, dan kenapa itu matanya. Ya jawabnya kena hewan saat di jalan, yang ngajak keluar ya si pelaku JJ," katanya.

Dengan ditangkapnya kedua orang tersangka oleh aparat kepolisian, ia meminta agar para pelaku ini dihukum berat sesuai dengan perbuatannya.

"Harapannya pelaku ini kalau bisa dikasi hukuman yang seberat-beratnya, yang setimpal, kalau bisa dihukum mati atau seumur hidup," ujarnya.

Seperti diberitakan sebelumnya, polisi dalami kasus meninggalnya K (3 tahun) gadis cilik asal Mojoagung, Kabupaten Jombang, Jawa Timur, yang diduga dianiaya pacar ibunya.

Dari hasil pemeriksaan polisi terhadap terduga pelaku dan sejumlah saksi, akhirnya polisi menetapkan 2 orang tersangka sebagai pelaku pembunuhan pada K.

Dua tersangka ini adalah Jack Vandim atau JJ, dan keponakannya AZ. Keduanya ditetapkankan sebagai tersangka atas pembunuhan berencana pada K.