Tragedi Kanjuruhan, Ada Dugaan Kejahatan Sistematis

Tragedi Kanjuruhan
Sumber :
  • Viva Malang

Malang – Sampai saat ini, Tragedi Kanjuruhan masih dalam proses investigasi yang dilakukan oleh polisi.

img_title 'Memayu Hayuning Projo lan Negari' Kebersamaan Lintas Iman di Lawang Malang

Terkait peristiwa ini, Tim Pencari Fakta Koalisi Masyarakat Sipil turut melakukan investigasi. Tim ini terdiri dari LBH Pos Malang, LBH Surabaya, YLBHI, Lokataru, IM 57+ Institute dan Komisi Untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (KontraS) telah melakukan investigasi selama kurang lebih tujuh hari.

Saat proses investigasi, tim bertemu dengan sejumlah saksi, korban dan keluarga korban.

img_title Peringatan 3 Tahun, Arema FC Kembali Minta Maaf Untuk Korban Tragedi Kanjuruhan

Mereka mencatat ada 12 temuan awal Tragedi Kanjuruhan yang terjadi pada Sabtu, 1 Oktober 2022.

Berdasarkan hasil investigasi awal, mereka menemukan dugaan kekerasan yang terjadi di Stadion Kanjuruhan merupakan dugaan kejahatan sistematis yang tidak hanya melibatkan pelaku lapangan. 

img_title Arema FC Gelar Doa dan Khataman saat Peringati 3 Tahun Tragedi Kanjuruhan

Selain itu, mereka juga menduga timbulnya korban jiwa akibat dari efek gas air mata yang digunakan oleh polisi dalam tragedi sepak bola paling memilukan di Indonesia itu. Tim ini kemudian merangkum sejumlah fakta di lapangan. 

"Bahwa pada saat pertengahan babak kedua, terdapat mobilisasi sejumlah pasukan yang membawa gas air mata.  Padahal diketahui tidak ada ancaman atau potensi gangguan keamanan saat itu," kata Daniel Alexander dari LBH Surabaya Pos Malang kepada wartawan, Senin, 10 Oktober 2022.

Atar peristiwa itu, terdapat 70r korban, termasuk 131 orang meninggal dunia dan mengalami luka. Rata-rata, kondisi korban yang terluka mengalami gegar otak, luka memar bagian muka dan tubuhnya, ruam merah pada muka, hingga trauma yang berat akibat peristiwa kekerasan yang telah terjadi.

Tim menemukan fakta ketika pertandingan antara Arema FC kontra Persebaya selesai. Diketahui terdapat sejumlah suporter yang masuk ke dalam lapangan. Berdasarkan keterangan saksi-saksi yang ada, suporter masuk lapangan hanya ingin memberikan dorongan motivasi dan memberikan dukungan moril kepada seluruh pemain. 

"Namun, hal tersebut direspon secara berlebihan dengan mengerahkan aparat keamanan dan kemudian terjadi tindak kekerasan. Hal inilah yang kemudian, para suporter lain ikut turun ke dalam lapangan bukan untuk melakukan penyerangan tetapi untuk menolong suporter lain yang mengalami tindak kekerasan dari aparat keamanan," ujar Daniel. 

Halaman Selanjutnya
img_title