Bikin Buku Pegangan Karena Pendidikan Inklusi di Indonesia Belum Sepenuh Hati

Mark Heyward menyerahkan kedua buku kepada Rektor UM, Hariyono
Sumber :
  • Istimewa

Malang – Pelaksanaan pendidikan terpadu di Indonesia dilakukan sejak 1980 namun dianggap kurang berkembang. Pada tahun 2000 kembali dikembangkan dengan menggunakan konsep pendidikan inklusif. Komitmen ini diformalkan melalui konvensi nasional pada 2004 yang menghasilkan Deklarasi Bandung.

Panggung iForte National Dance Competition Jadi Ajang Unjuk Kreatifitas Anak Muda Malang

“Namun, pendidikan inklusi yang dilaksanakan di Indonesia saat ini belum sepenuh hati,” ujar Setia Adi Purwanta, ahli pengembangan kebijakan disabilitas, saat dijumpai di Universitas Negeri Malang (UM) beberapa waktu lalu.

Namun, ada kecenderungan orang disabilitas memunculkan stigma negatif dan rasa kasihan. Untuk itu, cara pandang masyarakat mengenai disabilitas perlu diubah, termasuk pada diri guru, orang tua anak disabilitas, dan pembuat kebijakan.

Ukur Kesiapan Porprov 2025, Ratusan Atlet Kota Batu Ikuti Tes

“Itu justru menghambat orang disabilitas menjadi bagian dari masyarakat seutuhnya. Cara pandang tentang disabilitas semestinya didasarkan pada hak asasi manusia,” ujar Setia yang juga orang dengan gangguan penglihatan ini.

Sekolah dan kurikulum harus bisa menerima perbedaan sebagai hal yang normal atau biasa. Bukan karena adanya perbedaan, lantas harus menjadi bagian yang ekslusif.

Anugerah Inovasi Reka Karsa Cipta, Mas Adi Berharap Kota Pasuruan Bermunculan Inovator

Tentu bukanlah hal mudah untuk mengubah mindset tersebut. Apalagi ketika berbicara mengenai pendidikan umum, posisi orang disabilitas masih disempitkan. Bagaimana metode pembelajaran, persoalan kognitif dan sisi intelektual di sekolah belum berwawasan kesetaraan bagi orang disabilitas.

Pengalaman pribadi Setia dituangkan dalam dua buku pegangan inklusi baru. Yakni, Buku Pegangan (Bacaan) Pendidikan Inklusif untuk guru berjudul “Nuraga Sang Guru: Sebuah Kisah Kebhinekaan dalam Pendidikan Inklusif” dan untuk orang tua berjudul “Menumbuh dan Membumi: Anakku, Anakmu, Anak Ibu Pertiwi”.

Halaman Selanjutnya
img_title