Kuatnya Aroma Kopi Selo Parang Sekuat Tekad Pemiliknya

Direktur Operasional PJT I, Milfan Rantawi melihat UMKM binaannya
Sumber :
  • Viva Malang/Galih Rakasiwi

Malang – Meski tidak memiliki basic pengolahan kopi, Siswanto dan Yeti Ratnaningsih terus berupaya menghasilkan kopi bercita rasa tinggi yang diberi nama Kopi Selo Parang.

TNI AL Gadungan Tipu Purnawirawan Hingga Puluhan Juta di Malang

Siswanto menceritakan saat dirinya memulai usaha pengolahan kopi pada tahun 2019. Sekarang kopi menjadi bagian hidup keluarganya untuk memenuhi kebutuhan.

Jangan heran jika datang ke rumahnya yang cukup sederhana di RT 17 RW 7 Dusun Gagar, Desa Tulungrejo, Kecamatan Ngantang, Kabupaten Malang dipenuhi bahan baku biji kopi. Aroma kopi pun cukup kental terasa. 

Antusiasme Mudik Gratis PJT I Meningkat, Tahun ini Ada 325 Orang Diberangkatkan

Selain tempat pengolahan, sudut rumahnya juga disulap menjadi kafe sekaligus memajang produksinya. Di halaman rumah nampak ada ruang khusus dari bambu bertutup plastik UV tempat menjemur biji-biji kopi setengah jadi.

Nama Selo Parang dipilih lantaran Siswanto menanam kopinya di lahan sewa milik Perhutani seluas 2 hektare yang berada di tepi tebing bebatuan. Penamaan Selo berarti batu dan Parang berarti tebing dirasa cukup pas menggambarkan usahanya. 

Jatim Park Group Tebar 2.500 Bingkisan untuk Warga Kota Batu

"Itulah alasan saya memberi nama Selo Parang, selain berarti tebing bebatuan, parang juga menggambarkan pisau besar. Sesuai cita-cita agar usaha kopi saya semakin besar," katanya, Sabtu 10 Juni 2023.

Dia tidak membangun Kopi Selo Parang ujug-ujug dan langsung berjalan seperti saat ini. Dia memulai dari titik terendah, saat kondisi keuangan terpuruk.

Dulu, Sis hanyalah seorang buruh serabutan dengan penghasilan tak menentu, bahkan dirinya sempat terlilit hutang pinjaman online (pinjol). Keterpurukan memaksa dirinya memiliki tekat dan lebih kreatif sehingga bisa memenuhi kebutuhan keluarganya.

Kegagalan bahkan penolakan di awal-awal usahanya sering kali ia rasakan, tapi itu bukanlah penghalang melainkan jadi semangat dirinya.

"Paling parah ketika pandemi melanda, usahanya sempat macet. Tapi untung saja ada uluran tangan dari Perum Jasa Tirta (PJT) I," katanya.

Ya benar, ditengah kegalauannya, PJT 1 pun merespon keluhan para pelaku Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM) dari kerjasama Program Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL), Kopi Selo Parang menjadi salah satu UMKM binaan PJT I dan mendapatkan permodalan untuk penunjang.

Produksinya pun akhirnya terus berkembang, selain kedatangan tamu, permintaan semakin meningkat. Permintaan yang masuk ada yang dari Malang Raya, Pasuruan, Surabaya, Probolinggo, dan wilayah Jawa Timur lainnya.

Ragam produksi Kopi Selo Parang pun semakin dikenal publik antara lain kopi robusta, kopi robusta fermentasi, kopi lanang, kopi arabica dan kopi excelso. Produk unggulannya yaitu robusta. 

Kopi hasil produksinya dijual dengan harga Rp12 ribu sampai Rp115 ribu. Popularitasnya berkembang dari mulut ke mulut, konsumen yang sudah pernah mencicipi kembali pesan kepadanya. Tak puas disitu saja, Sis terus mengevaluasi berbagai kekurangan di produksinya untuk memperbaiki kualitas.

"Dari semua kendala itu, kita harus memiliki tekad terus berjuang, jangan putus asa, sabar dan konsisten jadi kunci. Alhamdulillah dari kopi saya mampu memulihkan perekonomian. Omzet kotor sebulan mencapai Rp 12 juta," ujarnya.

Lanjut Sis, kolaborasi UMKM dengan PJT I dirasa sangat pas untuk mengenalkan kopi asal Desa Tulungrejo ke kancah nasional hingga internasional. Paling penting memunculkan ikon kopi asal Kecamatan Ngantang.

"Pasalnya PJT I bisa membina UMKM melalui bantuan permodalan maupun pemasaran. Sehingga nanti bisa mewujudkan visi misi kopi asal Desa Tulungrejo, Ngantang mendunia," tuturnya.

Direktur Operasional PJT I, Ir Milfan Rantawi mengatakan sektor UMKM masih memiliki prospek yang cerah ke depannya. Untuk itu BUMN wajib hadir dan berkomitmen mensejahterakan masyarakat melalui program-programnya, salah satunya yaitu TJSL.

"Jadi kami ingin hadir dan bersinggungan langsung dengan masyarakat, terpenting bagaimana BUMN bisa berkontribusi membangun ekonomi berkelanjutan serta membantu UMKM binaan pasca pandemi, semakin hebat," katanya.

Komitmen itu merupakan wujud keseriusan PJT I menjalankan arahan Menteri BUMN, Erick Thohir agar bisa berperan aktif menjadi motor pemulihan ekonomi nasional.

"Sehingga bisa memperkuat dan meningkatan daya saing UMKM dan mendorong UMKM naik kelas," ujarnya.