Skema Mitra Instansi Pengelola, Jadi Cara PJT I Kembangkan Potensi Bisnis
- Humas PJT I
Malang, VIVA – Perum Jasa Tirta (PJT) I menargetkan peningkatan pengembangan potensi bisnis di 2024. Di antaranya peluang pengembangan wilayah dan penerapan BJPSDA (Biaya Jasa Pengelolaan Sumber Daya Air) dengan Skema MIP atau Mitra Instansi Pengelola.
Direktur Utama PJT I, Fahmi Hidayat mengatakan peluang pengembangan perusahaan tahun ini menjadi salah satu sasaran yang akan dicapai perusahaan sebagai upaya optimasi aset dan sumber daya yang dimiliki.
"Kami menargetkan pengembangan SDA yang dikelola PJT I untuk pengembangan energi baru dan terbarukan. Seperti diketahui, jika potensi air di bendungan yang dikelola PJT I telah digunakan untuk PLTA dan ke depan dikembangkan PLTS terapung di permukaan waduk menggunakan panel surya," kata Fahmi, Minggu, 18 Februari 2024.
Salah satunya di Bendungan Sutami, Kabupaten Malang. Di sisi lain, pengembangan Sistem Penyediaan Air Minum (SPAM) juga akan terus dilakukan. Saat ini SPAM telah dibangun dan dioperasikan di Kabupaten Lamongan dan saat ini juga dalam tahap pembangunan di Kota Malang.
"Pengembangan hidroinformatika melalui Smart Water Management System secara online dan realtime juga telah dilakukan PJT I. Bahkan terkait kredit karbon melalui kegiatan penanaman pohon juga menjadi investasi perusahaan yang akan terus dilakukan. Sekaligus menjaga ketahanan SDA," ujarnya.
Fahmi juga menyampaikan beragam tantangan kini dihadapi PJT I sebagai salah satu BUMN pengelola SDA di Indonesia.
"Tantangan itu terutama terkait layanan pengelolaan SDA dari mulai ancaman keberlanjutan SDA yang meliputi kuantitas, kualitas, kontinuitas hingga ancaman bencana terkait air yang semakin meningkat frekuensi dan magnitudonya," katanya.
Menurutnya, tantangan lain yakni keberlanjutan dan kondisi infrastruktur SDA yang menua dan bahkan rusak. Untuk itu, lanjut dia, perlu adanya perbaikan dan peremajaan infrastruktur guna mengoptimalkan kinerja dan pemanfaatannya untuk pengelolaan SDA di lima wilayah sungai yang dikelola PJT I baik di Jawa Timur, Jawa Tengah dan Sumatera Utara.
Pentingnya keberlanjutan finansial baik untuk CAPEX (Capital Expenditure) dan OPEX (Operating Expenditure) juga menjadi tantangan mengemuka yang dihadapi.
"CAPEX bagi PJT I yakni pengeluaran yang dikeluarkan untuk membeli atau memperbarui sarana dan infrastruktur tetap, khususnya dalam pemeliharaan dan pengelolaan SDA. Sedangkan OPEX berkaitan dengan biaya operasional dari kegiatan bisnis rutin seperti gaji karyawan, listrik," ujarnya.
Fahmi berharap agar PJT I yang kini memasuki usia 34 tahun dapat lebih adaptif dengan perubahan global.
"PJT I harus semakin cepat bertransformasi dari segala sisi," tuturnya.