Harga Beras Terus Naik, Perajin Lontong di Jombang Kelimpungan

Perajin lontong dari beras di Jombang.
Sumber :
  • Elok Apriyanto / Jombang

Jombang, VIVA – Kenaikan harga beras di pasar akhir-akhir ini berdampak pada usaha pembuatan lontong atau kupat. Bahkan, tempat kampung banyak memproduksi lontong, kini menjadi sepi. Usai beras naik terus di pasar.

Lebaran ke 3 di Jombang, Antrian Kendaraan Mengular dari SPBU hingga Mengkreng

Seperti di Dusun Ngembeh, Desa Ngumpul, Kecamatan Jogoroto, Kabupaten Jombang, Jawa Timur. Tempat sentra pembuatan lontong di Jombang ini, sepi. Lantaran warga memilih berhenti produksi usai harga beras naik tinggi.

Meski banyak yang berhenti, pengusaha lontong yang bertahan untuk memproduksi lontong lebih memilih mengurangi ukuran lontong, daripada dapur tidak mengebul.

Mobil Rombongan Keluarga Pemudik dari Tuban Terbakar di Jombang

Barok Sugiman (44 tahun) salah satu perajin lontong, mengaku harus memutar otak agar usaha pembuatan lontong miliknya tetap terus berjalan, meski harga beras tembus angka Rp16.000 per kilogramnya.

"(Harga beras naik) Dampaknya ya sangat berdampak, penghasilannya ya turun drastis mas," kata Sugiman, Minggu 18 Februari 2024.

Hari Ke 2 Lebaran di Jombang, Antrian Kendaraan Mengular hingga 12 Kilometer

Ia mengatakan di tengah harga beras naik, solusi yang paling tepat saat ini, para perajin lontong, memilih mengurangi ukuran lontong.

"Caranya ya barang (lontong) dikecilkan, per kilonya biasanya jadi 25, kalau sekarang harga beras naik bisa jadi 35 hingga 40 an," ujarnya.

Ia menjelaskan, saat ini proses produksi masih terus berjalan, meski harga beras mengalami kenaikan secara signifikan. Namun, bila harga beras sudah tak terkendali ia juga bakal memilih menaikkan harga lontong.

"Dalam setiap hari produksi 2.000 biji lontong. Bahan baku menghabiskan 50 hingga 60 kilogram beras. Ya untuk sementara cuma dikecilkan ukurannya. Tapi rencananya nanti kalau terus naik ya terpaksa harganya dinaikkan, tapi mudah-mudahan bisa turun," tuturnya.