Bapanas Keluarkan SE, Petani Tebu di Jombang Menjerit
- Elok Apriyanto / Jombang
Jombang, VIVA – Diterbitkannya surat edaran (SE) oleh Badan Pangan Nasional (Bapanas) Nomor 159/TS.02.02/K/6/2023 tentang Harga Pembelian Gula Kristal Putih Di Tingkat Petani, membuat sejumlah petani tebu di Kabupaten Jombang, menjerit.
Pasalnya, pemerintah melalui Bapanas akan menaikkan harga gula di tingkat petani dari Rp11.500 per kilogran menjadi maksimal Rp12.500 per kilogram.
Sedangkan harga gula di tingkat konsumen akan naik di kisaran Rp14.500 hingga Rp15.500 per kilogram (kg) dari sebelumnya Rp13.500 per kilogram.
Rencana kenaikan Harga Pokok Penjualan (HPP) tebu dan gula di petani, serta Harga Acuan Penjualan (HAP) gula di tingkat konsumen, dirasa tidak sejalan dengan kondisi nyata di lapangan oleh petani.
Seperti diungkapkan Imron Rosyadi (54 tahun) petani tebu di wilayah Kecamatan Diwek Jombang.
Menurut Imron, surat edaran yang dikeluarkan oleh Bapanas sangat memberatkan para petani tebu.
"Keluhan petani tebu sampai saat ini, dengan adanya surat edaran dari Bapanas dimana dalam surat edaran itu besarnya harga Rp12.500, padahal di tingkat pedagang menawar dengan harga Rp12.125, itu harga sore ini," kata Imron, Selasa 11 Juli 2023.
Kondisi ini diperparah dengan mahalnya harga pupuk tebu. Dan biaya tanam tebu yang cukup mahal. Untuk itu, ia berharap agar pemerintah pusat segera menangani persoalan yang dihadapi petani tebu.
"Kami mohon Bapanas, menko perekonomian, dan pak Presiden, agar memperhatikan keluhan petani. Karena kami adalah petani, pejuang gula. Jika tak ada petani, maka tidak mungkin terwujud swasembada gula, di Indonesia, itu hanya omong kosong. Pupuk mahal, tenaga kerja mahal. Untuk itu kami mohon penyangganya segera diturunkan," tuturnya.
Ia mengaku jika petani dihadapkan dengan para pedagang. Para petani kebanyakan tak bisa berbuat banyak.
"Terus terang kita sangat lemah jika dihadapkan pedagang. Karena pedagang punya pemikiran kalau petani tak memiliki uang. Sehingga para pedagang membeli gula di petani seenaknya. Begitu gula dibeli pedagang, harga langsung dinaikkan," katanya.
Saat ditanya berapa harga gula saat ini di tingkat petani. Ia mengaku sekarang harga Rp12.125, sedangkan di tingkat pedagang harganya mahal.
"Sekarang harga Rp12.125, per kilogram. Kalau di konsumen Rp14.500, nah ini kan yang menjadi kendala," ujarnya.
Ia menegaskan bila dampak kenaikan harga gula ini bisa dirasakan petani, maka para petani bisa menerima hal itu. Namun kondisi ini berbeda. Yang menikmati untung justru para pedagang.
"Ini kan kasihan konsumen. Kalau memang petani yang menikmati gak masalah, kita siap membayar pajak dan lain sebagainya. Nah kalau di tingkat pengecer sudah mahal, maka yang menikmati ya para pedagang," tuturnya.
Ia mengaku sebelum surat edaran tersebut keluar, pihaknya sudah menjual gula dengan harga Rp12.000 per kilogram ke pedagang. Namun, setelah harga naik, pedagang tak lagi membeli gula petani.
"Saya jual harga kemarin 12 ribu rupiah. Sebelum surat edaran itu turun. Dan setelah surat turun harga di konsumen naik, gulanya pedagang yang dijual, ke konsumen. Gak mau beli gulanya petani," kata Imron.
Ia mengaku bila keluhan para petani tebu di Jombang tak didengar pemerintah. Pihaknya akan melakukan mogok besar-besaran.
"Kita akan mogok tebang dan kita akan mogok memasok tebu ke pabrik," ujarnya.
Hal senada juga diungkapkan oleh Sunu Budiman (70 tahun) petani tebu asal Kecamatan Mojowarno.
Ia mengaku para petani di Jombang ini memang ingin memprotes surat edaran yang dikeluarkan Bapanas.
"Ini kan surat edaran tanpa gigi. Karena sebagai badan milik pemerintah, harusnya mereka memberi dana penyangga, jadi kalau gak laku di pasar, bapanas akan membeli gula para petani dengan harga Rp12.500, sebagai konsekuensi bapanas menjadi perwakilan pemerintah dan memberikan perlindungan pada petani tebu," tuturnya.
Ia berharap agar pemerintah melalui Bapanas menerbitkan surat edaran dan diikuti dengan dana penyangga yang merupakan jaminan bagi petani tebu.
"Harapannya Bapanas berani terbitkan surat edaran Rp12.500, juga dibarengi dengan bertindak sebagai penyangga harga itu," kata Sunu.