Gurihnya Brondong Ketan, Jajanan Tradisional yang Masih Eksis di Jombang

Jajanan tradisional berondong ketan produksi Jombang
Sumber :
  • Elok Apriyanto / Jombang

Jombang, VIVABrondong ketan merupakan salah satu jajanan tradisional yang memiliki khas, yakni rasa gurih, manis dan renyah. 

Kapolres Jombang, Cek Kondisi Lalin yang Mengarah ke Simpang 3 Bangjuri

Jajan jaman dulu (jadul) ini rupanya masih eksis di kalangan anak-anak hingga orang dewasa di kawasan Kabupaten Jombang, Jawa Timur

Bahkan, selain memiliki cita rasa yang khas, jajanan jadul ini juga masih diproduksi secara manual. Yang diwariskan secara turun temurun.

Cegah Aksi Pencurian, Polres Jombang Lakukan Patroli Rumah Kosong yang Ditinggal Mudik

Di Jombang, tepatnya di Desa Bawangan, Kecamatan Ploso. Brondong ketan ini dibuat dengan cara manual. 

Tak hanya itu, Ahmad Surasmintuhu (42 tahun) pemilik usaha berondong ketan ini mengaku usaha ini telah diwariskan secara turun temurun oleh nenek moyangnya.

Arus Mudik dan Balik Lebaran, Pengguna Jalan Wajib Patuhi Aturan Lalu Lintas di Jombang

"Ini usaha produksi brondong gabah ketan, udah turun temurun dari keluarga," katanya, Jum'at 16 Juni 2023.

Lebih lanjut ia menjelaskan bahan utama pembuatan jajanan jadul ini adalah ketan dan gula. Dan dalam sehari pihaknya mengaku menghabiskan puluhan kilogram gabah ketan.

"Bahan utamanya dari gabah ketan. Dalam setiap hari menghabiskan kurang lebih 25 kilogram. Ya menghasilkan kurang lebih 5 sak (karung) lah," ujarnya.

Untuk urusan harga, Ahmad mengaku harga berondong ketan ini sangat murah. Meski pembuatannya rumit dan menggunakan bahan alami.

"Satu ikat itu Rp7 ribu, isi 10 biji per ikatnya tapi kalau beli banyak itu ada bonusnya," katanya.

Ia mengaku jajanan tradisional ini sudah memiliki pasar tersendiri di kalangan masyarakat. Sehingga jajanan jadul ini tak kalah bersaing dengan makanan modern.

Untuk itu, dalam setiap bulan ia mampu meraup cuan jutaan rupiah. Hanya dari usaha pembuatan berondong ketan itu. 

"Ya kira-kira sekitar tiga juta lima ratus lah setiap bulannya," tuturnya.

Lantaran berbahan alami, dan tidak menggunakan bahan pengawet. Jajanan jadul ini sangat digemari anak-anak. 

"Cuma itu ya banyak anak-anak yang suka dan masih tradisional tidak ada campuran apapun, gabah ketan dan gula saja murni komposisinya," katanya.