Catatan BPBD, Banjir Rendam 9 Desa di 3 Kecamatan di Jombang

Air luapan sungai yang merendam rumah warga
Sumber :
  • Elok Apriyanto / Jombang

Jombang, VIVA – Bencana alam berupa banjir yang terjadi di beberapa kawasan di Kabupaten Jombang Jawa Timur, menjadi catatan tersendiri bagi Badan Penanggulangan Bencana Daerah setempat.

Cegah Aksi Pencurian, Polres Jombang Lakukan Patroli Rumah Kosong yang Ditinggal Mudik

Di tahun ini, BPBD mencatat penyebab terjadinya genangan air yang merendam rumah warga ini, dikarenakan luapan air sungai.

Luapan beberapa air sungai itu, membuat 9 desa di 3 kecamatan di Jombang terendam air, sungai.

Arus Mudik dan Balik Lebaran, Pengguna Jalan Wajib Patuhi Aturan Lalu Lintas di Jombang

Berdasarkan data BPBD Jombang, pada Rabu, 6 Maret 2024, sekitar pukul 09.30 WIB kemarin, genangan air yang diakibatkan luapan air sungai itu masih ditemukan di beberapa desa.

Di Desa Kademangan, Mojoagung Jombang misalnya, BPBD Jombang mencatat banjir setinggi 50 sampai 100 centimeter dengan tren berangsur surut.

Lebaran ke 3 di Jombang, Antrian Kendaraan Mengular dari SPBU hingga Mengkreng

Sementara di Desa Janti, Mojoagung Jombang, luapan sungai tercatat merendam permukiman setinggi 10 hingga 20 centimeter juga berangsur surut.

Begitupun Desa Betek, Mojoagung Jombang, banjir masih tercatat setinggi 10 sampai 20 centimeter berangsur surut.

Sedangkan banjir di Desa Mancilan dan Desa Tanggalrejo, Kecamatan Mojoagung, sudah surut total.

Di Kecamatan Sumobito, Jombang banjir terjadi di Desa Madyopuro setinggi 10 hingga 30 centimeter dan Desa Talunkidul setinggi 30 hingga 50 centimeter. 

Sedangkan di Kecamatan Jombang, banjir melanda Desa Pulo Lor setinggi 20 hingga 40 centimeter dan Desa Sambongdukuh setinggi 20 hingga 40 centimeter. 

"Banjir saat ini sudah berangsur surut, bahkan ada yang sudah surut total," kata Supervisor Pusdalops BPBD Kabupaten Jombang Stevie Maria, Sabtu, 9 Maret 2024.

Menurutnya, banjir di Kecamatan Mojoagung terjadi karena sejumlah faktor. Mulai dari topografi Mojoagung yang rendah.

Hal itu, diperburuk dengan dua sungai yang mengapit wilayah ini, yakni Sungai Catak Banteng, Kali Gunting dan Kali Pancir, serta curah hujan tinggi di wilayah hulu. 

"Hulunya di Wonosalam, Kediri dan Malang," ujarnya.

Lain halnya dengan Kecamatan Sumobito menurut Stevie, banjir dipengaruhi Sungai Ngotok Ring Kanal yang meluber. Termasuk debit Sungai Gude Ploso yang hulunya di Kediri. 

"Kenapa banjir? Karena curah hujan tinggi di hulu, sehingga muka air sungai naik dan meluber. Sama juga dengan penyebab banjir di Kecamatan Jombang," tuturnya.