Cerita Petani Cabai di Jombang saat Memasuki Musim Penghujan
- Elok Apriyanto / Jombang
Jombang, VIVA – Menanam cabai di musim penghujan seperti saat ini, mempunyai resiko yang hampir sama seperti saat menanam cabai pada musim kemarau.
Bila di musim penghujan seperti saat ini tanaman cabai beresiko busuk akibat curah hujan tinggi.
Seperti yang dialami oleh Mamad (35 tahun) petani cabai asal Desa Sukorejo, Kecamatan Perak, Kabupaten Jombang, Jawa Timur.
Menurut Mamad, pada musim penghujan setiap petani yang bertanam cabai mempunyai pertimbangan resiko tersendiri.
Hingga keuntungan menanam cabai pun tidak bisa diprediksi. Dikarenakan harga cabai bisa melambung bila banyak yang gagal panen. Atau malah sebaliknya cabai melimpah di pasaran dan harganya turun drastis.
"Saya rugi akibat cuaca, terhitung Rp5 juta kerugian, padahal harga cabai di pasar saat ini lumayan bagus," ujar Mamad, Rabu, 31 Januari 2024.
Mamad menjelaskan bahwa cabai yang sudah siap panen daunnya mengunung, buahnya juga rusak akibat terkena hujan. Luas cabai yang ditanam pun mencapai hektaran.
"Cabainya sudah mulai berkembang eh malah hujannya turun, sehingga banyak yang rusak pohon dan cabainya," kata Mamad.
Untuk mensiasati hal itu, Mamad memutar otak untuk memilah cabai busuk, kering dan segar. Karena nilai jual masing-masing kondisi cabai berbeda-beda, bila disortir.
"Cabai kering masih laku dijual, dengan harga Rp20 ribu per kilogram, sementara cabai segar Rp38 ribu perkilogram," tuturnya.
Karena tak ingin terus mengalami kerugian, Mamad pun akhirnya ingin beralih tanam. Dari menanam cabai, kini ia berencana menanam padi.
"Biar tidak rugi terus, sekarang mau saya beralih, dari tanam cabai ke tanam padi," katanya.