Antisipasi Musim Hujan, Petani di Jombang Lebih Milih Tanam Ubi daripada Padi
- Elok Apriyanto / Jombang
Jombang, VIVA – Tingginya intensitas curah hujan yang terjadi di kawasan Kabupaten Jombang, Jawa Timur, belakangan ini, membuat petani di daerah Kecamatan Ngoro, lebih berhati-hati dalam menentukan tanaman yang akan mereka tanam.
Untuk menghindari resiko tanamannya rusak akibat mulainya musim hujan, para petani lebih memilih menanam ubi jalar, yang dirasa lebih bisa bertahan dengan air.
Seperti yang dilakukan Nurul (48 tahun), petani asal Desa Kauman, Kecamatan Ngoro ini, lebih memilih menanam ubi jalar, dari pada tanaman padi.
"Memasuki musim penghujan, petani di Desa Kauman, Kecamatan Ngoro, lebih memilih menanam ubi jalar. Terlebih, harga ubi jalar saat ini meningkat dibandingkan dengan dua tahun lalu," kata Nurul, Rabu, 24 Januari 2024.
Nurul mengaku setiap memasuki musim penghujan dirinya selalu menanam ubi jalar. "Kalau musim penghujan memang sengaja menanam ubi jalar. Karena tanamannya tahan terhadap air," ujarnya.
Ia mengaku, selain tahan terhadap air, dan memiliki harga jual tinggi, perawatan ubi jalar tergolong mudah.
"Menanam ubi jalar tidak membutuhkan pupuk yang banyak. Dibandingkan dengan menanam padi. Kalau padi butuh pupuk yang banyak. Ubi jalar butuhnya sedikit," tuturnya.
Ia merinci, seperti luasan lahan miliknya, sawah seluas 2.800 meter persegi itu, hanya membutuhkan pupuk kurang lebih 20 kilogram, sejak tanam hingga sampai panen.
"Jadi biaya tanamnya juga tidak banyak," katanya.
Ia menyebut dalam sekali panen, hasil yang didapatkan juga cukup banyak. Dalam sekali panen bisa menghasilkan 4 ton ubi jalar.
"Paling jelek dapatnya 2 ton untuk luas lahan 2.800 meter persegi," ujarnya.
Ia menegaskan bahwa saat ini, untuk harga ubi jalar tergolong cukup tinggi. Bahkan, meningkat lebih dari 3 kali lipat dibandingkan tahun-tahun sebelumnya.
"Dulu hanya Rp1.000 per kilogramnya (kilogram) sekarang menjadi Rp4 ribu per kilogram," tuturnya.