Warga di Jombang Keluhkan Gangguan Debu Pabrik Kayu

Debu yang ada di pemukiman warga
Sumber :
  • Elok Apriyanto / Jombang

Jombang, VIVA – Sejumlah warga yang ada di Dusun Tunggorono, Desa Tunggorono, Kecamatan Jombang, Kabupaten Jombang Jawa Timur mengeluhkan gangguan debu yang diduga berasal dari pabrik kayu di Desa setempat.

Kapolres Jombang, Cek Kondisi Lalin yang Mengarah ke Simpang 3 Bangjuri

Tak hanya mengganggu kebersihan lingkungan, debu serbuk kayu itu juga sebabkan gangguan saluran pernapasan balita yang ada di Dusun tersebut.

Edwin (30 tahun) warga RT 2 RW 2, Dusun Tunggorono, Desa Tunggorono mengatakan sejak bulan Juli wilayah di kampungnya terkena polusi udara.

Cegah Aksi Pencurian, Polres Jombang Lakukan Patroli Rumah Kosong yang Ditinggal Mudik

"Warga ini sudah merasakan dampak dari polusi udara yang diakibatkan tersebarnya debu, sejak bulan tujuh (Juli) kemarin," kata Edwin, Selasa 26 September 2023.

Ia mengaku kondisi yang dialami warga itu, sudah diajukan ke perusahaan kayu yang diduga sebagai penyebab terjadinya polusi udara tersebut. 

Arus Mudik dan Balik Lebaran, Pengguna Jalan Wajib Patuhi Aturan Lalu Lintas di Jombang

Namun, sambung Edwin, tiga kali keluhan yang disampaikan warga ke perusahaan tersebut tidak mendapat respon. 

"Sampai kami dari warga itu, mengajukan keluhan pada pihak perusahaan itu sudah tiga kali. Tapi belum ada respon, baru kemarin kami bisa bertemu dari pihak berkompeten yang kami anggap bisa memutuskan untuk permasalahan ini, karena pencemaran serbuk ini sudah sangat menggangu sampai warga ada yang sakit," ujarnya.

Ia pun mengaku ada tiga bayi dibawah lima tahun (balita) di Dusun Tunggorono yang sempat mengalami gangguan saluran pernapasan. Dan salah satu balita yang mengalami gangguan saluran pernapasan itu merupakan kerabatnya.

Tak hanya itu, tanaman mangga milik warga juga terganggu lantaran tak bisa berbuah usai terkena debu serbuk kayu.

"Seperti mangga itu proses penyerbukannya gak bisa baik, karena terganggu debu. Jadi hasilnya (buah mangga) sangat menurun hasilnya. Tapi itu dampak-dampak kecil," tuturnya.

Yang paling dikhawatirkan warga, lanjut Edwin, adanya gangguan saluran pernapasan yang saat ini sudah menyerang beberapa balita.

"Yang paling mengkhawatirkan itu kesehatan warga. Karena sudah ada tiga balita yang disinyalir terinfeksi ISPA, dan sampai sekarang masih ada satu yang opname, selama munculnya debu ini," katanya.

"Yang opname itu keponakan saya atas nama Saka. Sudah dua hari dirawat di rumah sakit, sampai kalau bernafas itu pakai alat bantu. Ada juga dari warga RT 1 juga kena imbasnya, kasusnya juga sama, dan sakit yang diderita juga sama," ujarnya.

Ia berharap agar pihak perusahaan segera merespon keluhan warga. Lantaran, warga berencana akan melakukan aksi unjuk rasa di pabrik bila keluhan warga tak kunjung dipenuhi.

"Warga ini suda melakukan tuntutan, kalau sampai hari Jumat tidak ada kesepakatan (antara warga dan pabrik), rencananya kami akan melakukan aksi ke perusahaan untuk menghentikan proses produksi," tuturnya.

Edwin mengatakan pada tahun-tahun sebelumnya, tidak ada gangguan debu yang dirasakan warga. Namun sejak bulan Juli kemarin baru ada polusi udara tersebut.

"Sebelumnya gak ada baru bulan Juli. Kalau informasi yang didapat warga, ini dikarenakan ada pergantian bahan baku kayu yang diproduksi. Dan mungkin dari perusahaan kesiapan alat-alatnya yang untuk produksi bahan baku baru itu tadi gak siap," katanya.

Sementara itu, gangguan debu serbuk kayu juga dikeluhkan sekolah yang ada di lingkungan sekitar pabrik kayu di Desa Tunggorono.

Jumarianto Kepsek SDN Tunggorono 2 mengaku letak sekolah yang ada di dekat pabrik kayu, memang kerap mengganggu pihak sekolah.

Meski demikian, debu tersebut belum sampai menyebabkan terjadinya gangguan kesehatan siswa siswinya.

"Berkaitan dengan limbah itu, utamanya yang bisa dirasakan itu debu itu. Ketika ada angin bisa mengganggu anak-anak, karena lokasinya dekat dengan pabrik," ujarnya.

Ia pun mengaku hingga sekarang ia belum mengetahui solusi yang tepat untuk mengatasi persoalan debu serbuk kayu itu.

"Solusinya bagaimana itu juga saya belum mendapatkan solusi. Karena saya ini masih baru berdinas di situ (SDN Tunggorono 2). Selama ini berkaitan dengan gangguan debu, belum ada keluhan terkait kesehatan anak-anak, tapi ya cuman mengganggu itu aja," tuturnya.