Mahasiswa UB Kenalkan Pertanian Aquaponik Manfaatkan Kolam Lele Warga

Mahasiswa UB kenalkan pertanian Aquaponik
Sumber :
  • Humas UB

Malang, VIVA – Mahasiswa Universitas Brawijaya Malang membuat terobosan berupa sistem pertanian aquaponik di Dusun Aran-Aran, Kecamatan Poncokusumo, Kabupaten Malang. Mahasiswa Membangun Desa (MMD) 2025, Kelompok 33 ini memanfaatkan lahan kolam lele yang semula hanya jadi bagian dari lanskap desa.

img_title Sepekan Pencarian, Jenazah Ibu Hanyut di Sungai Glidik Malang Ditemukan di Pantai Alas Purwo Banyuwangi

Kolam lele itu disulap menjadi sebuah inovasi pertanian berkelanjutan. Mereka bukan hanya mengusung pendekatan teknologi yang ramah lingkungan, tetapi juga membuat analisis pada potensi lokal yang selama ini belum dimanfaatkan secara optimal. 

Hasilnya, sebuah ekosistem pertanian terpadu yang mampu menjawab tantangan keterbatasan lahan sekaligus membuka peluang ekonomi baru bagi masyarakat desa.

img_title Korban Puting Beliung di Malang Dapat Bantuan Material agar Rumah Bisa Ditempati

“Dari awal kami melihat banyak kolam ikan yang belum dimaksimalkan. Maka kami kembangkan jadi aquaponik, dengan memadukan budidaya ikan dan tanaman. Output-nya bisa multi fungsi yaitu, ternak ikan bisa dijual, dan nantinya tanaman juga bisa dipanen,” kata Penanggung Jawab Program Aquaponik Kelompok 33 MMD UB 2025, Saida, Senin, 14 Juli 2025. 

Aquaponik sendiri merupakan sistem yang menggabungkan akuakultur yaitu budidaya ikan dan hidroponik atau budidaya tanaman tanpa tanah menciptakan hubungan simbiosis yang hemat air, efisien lahan, dan berkelanjutan. 

img_title Batu Kembangkan Sentra Bibit Hortikultura Unggul di Sumber Brantas

Tim memilih pendekatan low-cost namun berdampak, saringan nasi dipakai sebagai media tanam, dengan rockwool sebagai pengganti tanah, menjadikan sistem ini mudah diterapkan warga. Bukan hanya gagasan yang dibawa mahasiswa, tetapi juga tangan yang ikut bekerja. Kolaborasi dengan warga menjadi kunci sukses pelaksanaan program. 

Pemilik kolam lele, Suroso yang kini menjadi mitra utama program, menyambut mahasiswa dengan terbuka. Katanya, kolam miliknya yang selama ini hanya digunakan sebagai tempat hiburan berupa pemancingan, kini berkembang menjadi sistem pertanian fungsional yang siap dikembangkan lebih lanjut. Suroso berkomitmen untuk melanjutkan program setelah mahasiswa pulang.

“Senang sekali, mbak. Saya beserta mahasiswa saling bantu pasang pipa, bersih-bersih, atap. Kemudian, banyak juga yang saya pelajari. Awalnya kelihatan ribet, tapi ternyata bisa dipahami dan menjadi ilmu baru bagi saya. Insya Allah akan saya kembangkan, dan akan saya lanjutkan jika berhasil," ujar Suroso.

Dalam analisis mahasis UB Dusun Aran-Aran selama ini menghadapi tantangan dalam pengelolaan lahan. Banyak kolam yang terbengkalai, lahan pertanian yang terbatas, serta minimnya diversifikasi pertanian. Kehadiran sistem aquaponik ini dapat menjadi titik balik.

Halaman Selanjutnya
img_title