Saat BINUS Malang Bahas Jarak Dunia Kampus dan Industri Pasca Kelulusan
- VIVA Malang/ Uki Rama
Malang, VIVA – Masalah pengangguran terbuka di Jawa Timur menjadi tantangan bagi semua pihak termasuk Perguruan Tinggi. Apalagi data dari Badan Pusat Statistik (BPS) pengangguran terbuka di Jatim pada 2024 tercatat sebesar 4,19 persen, lebih dari satu juta penduduk usia kerja masih belum terserap di pasar tenaga kerja.
Campus Director Binus Malang, Robertus Tang Herman mengatakan mereka berusaha mendekatkan jarak antara dunia kampus dan industri. Menurutnya, industri tidak hanya menghasilkan lulusan akademik, tapi harus menyiapkan talenta yang sesuai dengan kebutuhan industri.
“Gap antara lulusan dan kebutuhan industri masih terasa, utamanya soal relevansi kompetensi. Dunia kerja menuntut literasi baru, mulai dari digital hingga artificial intelligence. Kalau tidak kita siapkan dari sekarang, lulusan kita akan sulit diserap,” kata Robertus.
BINUS kini memiliki tagline ‘2,5 tahun mempersiapkan karier’. Mahasiswa dan lulusan BINUS diminta terjun langsung ke dunia kerja melalui program magang, proyek industri, hingga pembinaan bisnis. Sehingga tidak hanya teori di dalam kelas. Sebab BINUS berusaha membangun ekosistem pembelajaran yang adaptif dan berbasis kolaborasi.
“Mahasiswa Binus diproyeksikan untuk mengenal dunia kerja bahkan sebelum lulus. Satu tahun terakhir perkuliahan mereka full exposure ke industri. Kami melihat tren Gen Z dan kebutuhan pasar digital. Jadi kami siapkan mahasiswa bukan hanya untuk kerja, tapi juga menciptakan lapangan kerja," ujar Robertus.
Salah satu lulusan BINUS adalah Michael Kevin, yang kini telah menjalankan bisnis apparel dengan omzet miliaran rupiah. Bisnis yang dimulai dari dropship kecil saat SMA itu kini memiliki unit produksi sendiri.
Dia menganggap pembinaan di BINUS mempengaruhi pola pikir bisnisnya. Menurutnya, kehadiran lingkungan dan kurikulum yang mendukung menjadikan kampus sebagai tempat aktualisasi.
“Di BINUS pembinaan terasa banget. Saya enggak cuma belajar bisnis di kelas, tapi dapat mentor, dosen, bahkan komunitas yang mendorong untuk berkembang. Informasi dari dosen dan mentor itu kepakai semua sekarang. Binus itu bukan kampus yang asal-asalan. Kita disiapkan untuk menghadapi dunia kerja,” tutur Robertus.