Menu Sayur Tercampur Ulat untuk Balita Stunting dari Dinkes Jombang

Sekretaris Dinkes Jombang, Saiful.
Sumber :
  • Elok Apriyanto / Jombang

"Biasanya penanganan stunting biasanya kita gunakan pabrikasi susu formula. Dan itu untuk menghindari hal-hal seperti ini. Tapi oleh kebijakan di pusat untuk penanganan stunting yang dananya dari insentif fiskal, diharapkan PMT lokal, sehingga kita tidak membelanjakan pabrikasi susu," katanya.

Ia mengaku bila PMT stunting diberikan pabrikasi susu formula, maka dapat dipastikan bahwa penanganan stunting ini tepat sasaran. Karena susu itu, pasti dikonsumsi oleh balita.

"Alasan kami supaya menggunakan pabrikasi itu gini, kalau pabrikasi berupa susu, itu pasti dan bisa dipastikan, yang akan mengkonsumsi adalah si balita, atau si anak-anak stunting. Karena tidak mungkin diminum orang tuanya, saudaranya atau kakaknya," ujar Saiful.

"Tetapi kalau PMT lokal, resikonya belum tentu si anak stunting ini makan itu, dan inilah yang menjadi alasan kami, ingin menggunakan pabrikasi susu formula, karena susu formula itu yang pertama aman, yang kedua tepat sasaran, dan pada penambahan berat badan itu jadi jelas," tuturnya.

Ia pun menjelaskan bahwa kebijakan pusat yang mengharuskan menggunakan PMT lokal, didasari dengan ingin adanya pertumbuhan ekonomi lokal dari program penanganan stunting.

"Ya terkait pertumbuhan ekonomi lokal, dari pak Jokowi mengarahkan bahwa PMT ini menggunakan makanan lokal. Ternyata apa yang kita takutkan terjadi, maka PPG kami hentikan," ujar Saiful.

Seperti diberitakan sebelumnya, balita stunting yang mengikuti kegiatan Pos Pemulihan Gizi (PPG) di dua Kecamatan yang ada di Kabupaten Jombang, Jawa Timur, menerima makanan yang tidak layak konsumsi.