Miris, Nenek di Jombang Tinggal di Rumah Tak Layak Huni Sambil Rawat Cucu
- Elok Apriyanto / Jombang
Jombang, VIVA – Potret kemiskinan masih terasa di Kabupaten Jombang, Jawa Timur. Terutama di wilayah Kecamatan Jombang, pusat kota santri.
Seorang nenek bernama Paimah (70), warga Desa Pulo Lor, Kecamatan Jombang Kota, harus bertahan hidup di sebuah rumah tak layak huni yang berdiri di sepadan jalan desa.
Dengan kondisi renta dan sudah tak kuat bekerja, Paimah hanya mengandalkan belas kasihan tetangga. Bahkan, demi mengisi perut, ia terkadang harus meminta-minta di jalanan Jombang.
Nenek Paimah sudah tinggal di rumah bambu seadanya sejak enam tahun terakhir. Sebelumnya, rumah dan tanah miliknya terpaksa dijual untuk biaya berobat sang suami yang akhirnya meninggal dunia.
Kini, meski usianya lanjut, ia masih harus merawat cucunya yang masih kecil. Sang cucu ditinggal ibunya merantau ke luar pulau untuk bekerja.
“Sudah enam tahun (tinggal di sini), tanahnya dari pak lurah. Rumah dijual buat berobat suami. Saya kadang minta di jalan-jalan untuk makan,” ujar Paimah, Kamis 4 September 2025.
Meski terdaftar sebagai penerima Program Keluarga Harapan (PKH), bantuan Rp600 ribu per tahap yang diterimanya jauh dari cukup. Uang itu dipakai untuk kebutuhan sehari-hari, termasuk biaya sekolah sang cucu.
“Dapat PKH Rp600 ribu tidak cukup. Dicukup-cukupkan buat jajan cucu sama uang saku sekolah. Kalau rumah ambruk ya apes saja,” ujarnya.
Kondisi Paimah membuat sejumlah tetangga iba. Salah satunya Joko, yang kerap memberikan bantuan ala kadarnya.
“Kadang saya kasih beras atau uang seikhlasnya, supaya Mbah Paimah bisa bertahan hidup,” tutur Joko.
Kehidupan memprihatinkan nenek Paimah ini menjadi kontras dengan kebijakan pemerintah daerah yang baru saja menaikkan tunjangan perumahan dan transportasi anggota DPRD Jombang.
Kenaikan tunjangan tersebut menuai sorotan publik, terlebih di tengah banyaknya warga miskin yang masih tinggal di rumah tak layak huni.