Genggaman, Pameran Keramik Satukan Seniman Senior dan Muda lewat Tanah Liat
- VIVA Malang / Galih Rakasiwi
Batu, VIVA – Suasana berbeda terasa di Studio MataHati Ceramics, Jalan Wastu Asri, Desa Junrejo, Kecamatan Junrejo, Kota Batu. Pameran keramik bertajuk 'Genggaman' resmi dibuka pada Sabtu 14 Juni 2025.
Dalam pameran tersebut menghadirkan puluhan karya seni dari 17 kramikus yang berasal dari berbagai daerah seperti Yogyakarta, Solo, Bali, Surabaya, Malang, Kota Batu, Nganjuk, Kediri, hingga Papua.
Lebih dari sekadar ajang pamer karya 'Genggaman' yang dipadati pengunjung menjadi ruang silaturahmi artistik antara generasi, antara seniman pemula hingga maestro.
Pameran ini juga menandai semangat kolaborasi lintas kampus dan komunitas, serta mengajak masyarakat untuk lebih memahami keramik bukan hanya sebagai benda pakai, namun juga medium ekspresi dan refleksi budaya.
Pameran 'Genggaman' melibatkan sejumlah akademisi dan mahasiswa dari berbagai kampus seperti Universitas Negeri Malang (UM), Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Universitas Negeri Surabaya (Unesa), Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta dan Solo, dan lainnya.
Praktisi seni sekaligus dosen Universitas Negeri Malang (UM), Prof Ponimin menjelaskan bahwa seni keramik memiliki akar panjang dalam sejarah budaya Indonesia. Menurutnya, keramik bukanlah sekadar produk terapan, tetapi juga sarana untuk menyampaikan ekspresi personal seniman.
“Sejak masa prasejarah, kita mengenal terakota atau gerabah. Kini, keramik menjadi media ekspresi yang selaras dengan perkembangan seni rupa kontemporer,” katanya.
Ia juga menekankan pentingnya menjaga kearifan lokal di tengah arus digitalisasi. Menurutnya tanah liat mampu menghubungkan elemen-elemen dasar kehidupan.
"Tanah, air, api, dan udara. Inilah esensi manusia. Di tengah riuh teknologi, kita perlu ruang yang membumi, dan keramik bisa menjadi jembatannya. Semoga dunia seni dan keramik Indonesia semakin maju, tentu acara serupa seperti ini harus terus digaungkan," katanya.
Ketua pelaksana pameran dari UM, Najib Dwiki menjelaskan jika Genggaman merupakan simbol persatuan. Alasan tema ini dipilih sebagai simbol kekuatan kebersamaan.
"Istilah Genggaman menggambarkan proses kreatif sekaligus filosofi di balik acara. Jadi, awalnya dari aktivitas menggenggam tanah lalu merasakannya, dan membentuknya. Dari situ, muncul kekuatan kolektif. Kami ingin memperkuat jaringan seniman lokal, agar dari kelompok kecil bisa lahir gerakan besar yang mampu menggebrak seni dunia,” ujarnya.