Batik Pewarna Alam Mojotrisno Jombang Tembus Pasar Internasional
- Elok Apriyanto / Jombang
Jombang, VIVA – Batik pewarna alam asal Desa Mojotrisno, Kecamatan Mojoagung, Kabupaten Jombang, Jawa Timur, kini menembus pasar internasional.
Karya perajin lokal yang tergabung dalam rumah produksi Berkah Mojo Batik ini bahkan sudah dikirim hingga Singapura, Hongkong, Sri Lanka, dan Amerika Serikat.
Pemilik Berkah Mojo Batik, Nusa Amin, menjelaskan bahwa teknik pewarnaan alami sudah lama dikenal sejak zaman kerajaan.
Bahan baku diperoleh dari lingkungan sekitar desa, seperti kulit kayu mahoni, kulit buah jolawe, dan kayu secang.
“Warna yang dihasilkan kuat dan tahan lama, bahkan meski terkena deterjen,” katanya, Sabtu, 23 Agustus 2025.
Ia menegaskan proses pembuatan batik pewarna alam Jombang dilakukan dengan cara tradisional, yakni merebus kulit kayu hingga menghasilkan warna, lalu kain dicelupkan berulang kali sesuai kebutuhan.
Satu kain batik cap dijual mulai Rp150 ribu, sementara batik tulis mencapai Rp750 ribu per potong.
Nusa menceritakan perjalanan panjangnya di dunia batik. Ia mulai membatik sejak 1995 di Bali, sempat mengekspor ke Brasil pada 2005, namun mengalami kerugian karena tak dibayar.
“Saya akhirnya pulang. Tahun 2012 baru fokus menekuni batik pewarna alam hingga sekarang,” ujarnya.
Kini, Berkah Mojo Batik memiliki tiga motif khas yang menjadi identitasnya, yakni Mojo Wijoyo, Garudea Arimbi, dan Naga Air, yang terinspirasi dari situs bersejarah di Japanan, Jombang. Untuk produksi, Nusa dibantu sembilan pembatik dan 12 penenun.
“Ciri khas kami memang memakai pewarna alam, baik untuk batik, ecoprint, maupun tenun,” tuturnya.
Kehadiran batik pewarna alam Mojotrisno tidak hanya menjaga warisan budaya leluhur, tetapi juga berhasil mengangkat nama Jombang di pasar dunia.