Melihat Budidaya Kemiri di Lereng Gunung Anjasmoro Jombang

Kemiri yang dihasilkan dari lereng gunung Anjasmoro, Wonosalam.
Sumber :
  • Elok Apriyanto

Jombang, VIVA – Tanaman kemiri di lereng gunung Anjasmoro yang berada di Kecamatan Wonosalam, Kabupaten Jombang, Jawa Timur, masih menjadi primadona bagi warga setempat untuk mendulang cuan.

Kemiri yang tersedia melimpah di hutan bisa dimanfaatkan untuk bahan minyak dan rempah-rempah, sehingga bisa menjadi sumber penghasilan tambahan warga setempat.

Seperti tanaman kemiri yang ada di dalam hutan Dusun Mendiro, Desa Panglungan, Kecamatan Wonosalam.

Tria Yunita (40) warga Dusun Mandiro menjelaskan, selama bertahun-tahun, kemiri menjadi komoditi andalan masyarakat untuk menambah omzet kebutuhan sehari-hari.

Setiap pagi, warga setempat banyak yang masuk ke dalam hutan belantara untuk berburu kemiri yang sudah jatuh dari pohonnya. 

"Setiap hari orang orang ke sini untuk meyetorkan hasil buruan kemiri di hutan," kata Tria, Selasa 2 April 2024.

Ia menjelaskan keseruan berburu kemiri yang bisa dibilang cukup susah-susah gampang. Sebab, ukurannya yang cenderung kecil membuatnya sulit ditemui di balik semak maupun rerumputan kering.

"Jadi harus jeli kalau mencari di hutan," ujarnya.

Lebih lanjut, Tria bersama keluarganya, sudah bertahun-tahun menjadi pengepul kemiri ini, menerima hasil buruan dari warga.

Untuk, kemiri basah yang didapat dari hutan, kemudian dijemur sampai kering. Proses penjemuran biasanya membutuhkan waktu sekitar 5-2 minggu tergantung cuaca. 

"Tapi kalau hujan-hujanan seperti saat ini bisa 2 minggu waktu yang dibutuhkan untuk proses pengeringan kemiri," tuturnya.

Perlu diketahui tanaman dengan nama latin aleurites moluccanus ini, dapat dimanfaatkan bijinya sebagai bahan pembuatan minyak dan rempah-rempah. 

"Tapi di sini, sebagian warga juga memanfaatkan untuk bumbu masak serta campuran sambal pecel. Harganya kalau dijual itu Rp 9.000 per 127 biji," kata Tria.

Ia pun menjelaskan bahwa harga jual kemiri di pasar, saat ini cenderung menurun. Dari sebelumnya seharga Rp 50.000 per kilogram menjadi Rp 35.000 per kilogram.

''Karena sekarang musim panen. Jadi harga agak menurun," akunya.